HBV DNA tidak terdeteksi: mengapa obat hepatitis B masih perlu diminum?
Pahami mengapa HBV DNA tidak terdeteksi belum berarti obat boleh dihentikan, serta pertanyaan yang perlu diajukan kepada dokter.
Didukung sumber
Arti reaktivasi HBV, terapi apa yang perlu memicu skrining, dan pertanyaan sebelum terapi kanker atau penekan imun dimulai.
Sebagian orang pernah mengalami hepatitis B dan sekarang HBsAg negatif, tanpa gejala, atau hanya tahu anti-HBc positif. Sebagian lain HBsAg positif tetapi tes hati stabil. Setelah kemoterapi, terapi penekan imun, biologik, terapi terkait transplantasi, atau steroid dosis tinggi jangka panjang, HBV dapat kembali bereplikasi dan menyebabkan flare hepatitis yang dapat mengganggu terapi kanker, reumatologi, ginjal, penyakit darah, atau transplantasi.
Ini disebut reaktivasi HBV. Ini bukan infeksi baru dari orang lain; HBV lama atau saat ini menjadi aktif kembali saat sistem imun ditekan. Karena banyak orang tidak bergejala sebelumnya, langkah praktisnya adalah skrining dan rencana sebelum terapi berisiko tinggi dimulai.
Sebelum terapi kanker sistemik, kemoterapi, obat anti-CD20, transplantasi sel punca, imunosupresi transplantasi organ, CAR-T atau terapi sel lain, steroid jangka panjang atau dosis tinggi, JAK inhibitor, TNF inhibitor, terapi target sel B atau T, atau biologik untuk penyakit reumatologi atau radang usus, tanyakan: Apakah saya perlu pemeriksaan HBsAg, anti-HBc, anti-HBs, atau skrining HBV lengkap?
ASCO merekomendasikan pemeriksaan HBsAg, anti-HBc, dan anti-HBs untuk orang yang akan menjalani terapi antikanker sistemik. Rekomendasi skrining CDC juga mencakup orang yang menerima atau membutuhkan terapi sitotoksik, imunosupresif, atau imunomodulator. Rencana akhir mungkin perlu melibatkan onkologi, reumatologi, hematologi, nefrologi, transplantasi, serta dokter hati atau infeksi.
Sebelum terapi, susun HBsAg, anti-HBs, total atau IgG anti-HBc, kadang anti-HBc IgM, HBV DNA, ALT/AST, bilirubin, albumin, INR, trombosit, USG hati atau penilaian fibrosis, serta riwayat penggunaan entecavir, tenofovir, atau antivirus lain.
Jika Anda hanya ingat pernah diberi tahu punya hepatitis B, disebut carrier saat kecil, atau core antibody positif saat pemeriksaan, jangan anggap itu detail kecil. Bawa laporan lama atau fotonya, dan beri tahu dokter nama terapi, perkiraan tanggal mulai, lama terapi, dan apakah beberapa obat penekan imun akan digabung.
Orang yang HBsAg positif sering dinilai apakah perlu antivirus pencegahan sebelum banyak terapi berisiko tinggi. Orang yang HBsAg negatif tetapi anti-HBc positif juga dapat memerlukan antivirus pencegahan pada sebagian regimen berisiko tinggi, atau pemantauan ketat pada regimen risiko lebih rendah. Panduan AASLD menekankan bahwa risiko reaktivasi bergantung pada serologi HBV dan risiko obat, bukan hanya ALT normal saat itu.
Pilihan antivirus, kapan mulai, berapa lama dilanjutkan, dan berapa lama dipantau setelah berhenti harus diputuskan oleh dokter. Jangan membeli antivirus sendiri agar terapi cepat dimulai, dan jangan menganggap tidak ada risiko hanya karena HBV DNA pernah tidak terdeteksi.
Masukkan skrining HBV ke daftar tugas sebelum kemoterapi, imunosupresi, atau biologik. Simpan semua laporan hepatitis B lama. Kirim nama regimen terapi ke dokter hati atau infeksi. Pastikan apakah perlu antivirus pencegahan atau pemantauan terjadwal. Setelah terapi dimulai, ikuti jadwal pemantauan dan jangan menghentikan antivirus sendiri atau melewatkan kontrol setelah terapi selesai.
Pahami mengapa HBV DNA tidak terdeteksi belum berarti obat boleh dihentikan, serta pertanyaan yang perlu diajukan kepada dokter.
Panduan praktis bagi orang yang diberi tahu memiliki sirosis atau fibrosis berat: antivirus, skrining kanker hati, varises, asites, keamanan obat, nutrisi, dan tanda darurat.
Checklist persiapan kontrol hepatitis B kronis, termasuk HBV DNA, ALT, skrining kanker hati, kepatuhan obat, dan pertanyaan untuk dokter.